Khotmil Quran merupakan program dari departemen PBA SKI FIB Unair yang bentuk kegiatanya berupa
menghatamkan Al-Qur'an secara bersama-sama. 

Masing-masing peserta akan dibagi jatah untuk membaca Al-Quran. Pembagianya tergantung banyak sedikitnya
peserta yang mengikuti. Apabila peserta yang ikut berjumlah 30 anak maka masing-masing peserta akan
membaca 1 juz. Kalau peserta yang datang hanya 15 maka masing-masing peserta akan membaca 2 Juz.
Kalau peserta lebih dari 30 maka masing-masing tetap membaca 1 juz.
Dalam artian ada 2 anak atau lebih yang membaca juz 1, 2, 3 dan seterusnya. 

Khotmil Quran sudah pernah dilaksanakan sebanyak dua kali. Pertama kolaborasi dengan SKI Psikologi yang
tempatnya di musholla Psikologi Unair. Diadakanya kolaborasi supaya  mahasiswa muslim FIB mengenal lebih
dalam saudara muslim yang berada di luar FIB, termasuk saudara muslim di Psikologi. Kedua, 
Departemen PBA melaksanakan kegiatan Khotmil Quran di Musholla FIB.  

Kegiatan Khotmil sebelumnya dirasa terlalu monoton pada penghataman Al-Qur'an. Hal ini berdampak pada
daya tarik mahasiswa muslim FIB yang masih minim. Oleh karena itu Departemen PBA SKI FIB berinovasi
 dengan mengundang UKMSR untuk membuka Khotmil Quran dan selanjutnya diskusi mengenai tahun baru Hijriah
yang insyaallah akan di Pandu oleh Mas Teguh Imami (ketua SKI FIB 2016), setelah itu baru akan diadakan Khataman secara bersama-sama.

Semoga dengan inovasi ini daya tarik mahasiswa FIB dalam mengikuti Khotmil Quran semakin meningkat. 



Al-Quran Study Club atau bisa disebut dengan ASC merupakan program SKI FIB yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran mahasiswa FIB Unair.  Selain pelatihan membaca Al-Quran juga ada kegiatan tafsir Al-Qur'an. Harapanya dengan adanya tafsir ini mahasiswa FIB semakin memahami Al-Qur'an secara mendalam. 


ASC terbuka untuk angakatan 2018, 2017, dan 2016.  Kegiatan ini diadakan rutin setiap satu minggu sekali pada hari rabu. Kegiatanya dimulai dari bulan September sampai bulan November.


Fakta & Bahaya Menguap dari Sisi Medis & Islam

Cat, Yawn

Menguap atau dalam bahasa Jawa disebut angop merupakan satu kebiasaan yang sering dilakukan manusia ketika rasa kantuk menyapa. Saat menguap, seseorang akan menghirup udara dalam-dalam melalui mulut. Kebanyakan orang menganggap menguap disebabkan rasa kantuk, namun dalam segi medis, menguap merupakan gejala yang menunjukkan jika otak dan tubuh membutuhkan oksigen dan nutrisi akibat organ pernapasan kurang dalam menyuplai oksigen ke otak dan tubuh. Terdapat beberapa kondisi yang mendorong seseorang untuk menguap, diantaranya karena rasa letih, malas, kenyang, lesu, tubuh berat, dan lain sebagainya.

Tidak banyak yang tahu jika ternyata banyak bahaya yang mengancam ketika kita menguap. Hem, pasti sobat semua heran, bagaimana mungkin kebiasaan yang hampir terjadi pada manusia setiap waktu tersebut dapat membahayakan? Mulut berbeda dengan hidung, karena dia tidak bisa menyaring udara. Jadi ketika kita membuka mulut dan menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, maka pada saat itu akan masuk debu, kutu, dan berbagai jenis mikroba bersama udara ke dalam tubuh. Jika kebiasaan tersebut dilakukan terus menerus, maka berbagai ancaman penyakit siap menyerang tubuh kita.
Selain itu, menurut pandangan Islam ada beberapa bahaya lagi jika kita tidak menguap dengan benar. Karena menguap juga ada etikanya loh.

Dalam Islam, ada beberapa adab yang sebaiknya diataati ketika menguap,
karena menguap merupakan satu tindakan yang ditimbulkan oleh setan. Terdapat salah satu hadits yang menyebutkan, yakni : “Menguap itu dari setan, jika seorang menguap hendaklah dia tahan semampunya.” (HR. Bukhari 3289 & Muslim 7682).

Berdasarkan petunjuk hadits diatas, maka ketika menguap kita harus melakukan beberapa cara berikut ini :

-- Menutup atau Merapatkan Mulut

Yang harus kita lakukan ketika keinginan menguap datang adalah menolaknya dengan cara menutup atau merapatkan mulut.
Adab pertama di dalam menguap adalah berusaha sekuat tenaga untuk menolak dan mencegah terjadinya menguap dengan berusaha tetap menutup dan merapatkan mulut. Menutup atau merapatkan mulut juga dapat mencegah debu dan kotoran serta mikroba masuk kedalam tubuh.
Jika cara diatas dianggap sulit, sobat bisa menahan menguap dengan cara menutup dengan tangan. Tindakan tersebut banyak manfaatnya, antara lain : melaksanakan perintah Rasulullah saw, untuk menghindari bau mulut tercium orang lain, dan agar setan tidak ikut masuk. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang artinya : “Jika seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menutup mulutnya dengan tangan, sebab setan bisa masuk”. (HR. Muslim)

-- Tidak Mengeluarkan Kata "Huaaah"

Entah disengaja atau tidak, saat menguap seseorang seringkali mengeluarkan suara “huaaah, atau teriakan lainnya. Hal tersebut sangatlah dilarang dalam islam, karena selain tidak sopan, suara lenguhan tersebut dapat mengundang tawa setan dan Allah juga tidak menyukainya. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya : “……Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” (HR. Al-Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)

Nah, setelah membaca penjelasan diatas, pasti sobat semua akan lebih mengerti bagaimana cara mengatasi ketika menguap itu datang. Semoga bermanfaat dan jangan lupa share agar semakin bermanfaat.



Source : ibu-zahraa.blogspot.co.id
Picture : pixabay.com

Analogi Q.S. Al-'Asr
Oleh: Okky Setiana Dewi

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

1. Demi massa
🍁 merupakan sumpah Allah, yaitu tentang waktu. Atau dapat diartikan sebagai peringatan bahwa waktu yang diberikan Allah kepada manusia sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
🍁 Bayangkan jika semua manusia berada di tengah-tengah lautan dalam keadaan pingsan. Semua manusia tersebut terus tenggelam ke dalam dasar lautan.

2. kecuali orang-orang yang beriman
🍁 yaitu orang-orang yang sadar dari pingsannya serta menyadari bahwa dirinya akan segera tenggelam

3. dan mengerjakan amal saleh
🍁 orang-orang yang juga berusaha berenang ke atas untuk menyelamatkan diri

4. dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
🍁 akan tetapi, orang tersebut tidak bisa berenang ke atas dan menyelamatkan diri karena kakinya terikat dengan kaki orang-orang yang lain, yang masih pingsan. Maka dari itu, perlu untuk membangunkan dan menyadarkan yang lain, serta mengajak mereka semua berenang ke atas.

5. dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran
🍁 semua orang sudah berenang bersama, berusaha menyelamatkan diri dari kerugian. Namun disaat perjalanan menuju ke atas, ada beberapa orang yang merasa lelah dan ingin menyerah saja. Oleh karena itu, yang lain perlu untuk memberikan semangat dan menasihati temannya agar tetap sabar dan terus berenang, untuk keselamatan bersama.

Wallahu'alam bishawab ...

Intisari:
▶ Berbuat baik saja tidaklah cukup. Kita sebagai umat Islam, perlu untuk saling menasihati, mengajak saudara-saudara kita untuk bersama menuju ridho-Nya, menuju surga-Nya.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
~~~ Departemen Syiar Media
         LDF SKI FIB UNAIR 1439H
         Kabinet Kolaborasi Dakwah

Web       : skifibunair.blogspot.com
Line       : @god8105h
IG           : skifib_unair
Twitter : skifib_unair
FB          : Ski Fib Unair
1. Mandi sebelum Sholat Ied
Sebagaimana khabar yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i Rohimahulloh ketika Ali bin Abi Thalib ditanya tentang disyariatkannya mandi, maka beliau menjawab: ”Pada hari Jum’at, hari ‘Arofah,‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri” [Sanadnya Shohih]

2. Memakai pakaian terbaik dan minyak wangi
Sahabat Anas Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:
”Rasullullah SAW memerintahkan kami untuk memakai pakaian dan minyak wangi terbaik kami”
[H.R. Hakim, Sanad La Ba’sa Bihi]
Ps: hanya untuk ikhwan

3. Tidak makan dan minun sebelum Sholat Ied
Sahabat Buraidah Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:
”Rasulullah SAW tidak keluar [untuk sholat Idul Fitri] sampai makan terlebih dahulu, sedangkan pada hari Idul Adha Beliau tidak makan sampai pulang [dari sholat] dan Beliau makan dari hewan kurbannya.” [H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah Dan Ahmad, Hadis Hasan]

4. Berjalan kaki berangkat menuju tempat sholat Ied
Hal tersebut biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagaimana khabar yang disampaikan oleh Ibnu Umar Rodhiyallohu ‘Anhu:
”Rasulullah Shollallohu ‘Alahi wa Sallam biasa pergi dan pulang dari sholat ‘ied dengan jalan kaki” [H.R. Ibnu Majah, Hadits Hasan]

5. Memilih jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang
Sebagaimana hal itu dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika hari raya [pergi dan pulang sholat ‘ied] melewati jalan yang berbeda” [H.R. Bukhori]

6. Mendengarkan khutbah saat sholat Ied
Khutbah sholat ‘ied dilaksanakan sekali setelah sholat ‘ied. Hukum mendengarkannya adalah sunnah, hal tersebut berdasarkan hadits shohih, bahwasannya Rasulullah bersabda:”Sesungguhnya kami berkhutbah, barang siapa yang mendengarkannya maka duduklah dan barang siapa yang ingin pergi maka pergilah.” [H.R. Abu Dawud, An Nasai Dan Ibnu Majah]

7. Sholat Ied di tanah lapang
Hal ini untuk menunjukan syiar Islam, menjalin ukhuwah atau persaudaraan antara sesama dan itu sesuai dengan perbuatan Nabi Shollallohu ‘Alahi wa Sallam berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudriy Rodhiyallohu ‘Anhu dia berkata:"Rasulullah Shallallohu ‘Alahi Wasallam keluar pada hari’Idul Fitri dan ‘Idul Adha ke mushola [tanah lapang untuk sholat] dan beliau mengawalinya dengan sholat.“ [H.R. Bukhori dan Muslim dan An-Nasai]
Ps: kecuali ketika turun hujan atau udzur lain maka tidak mengapa melaksanakannya di masjid.

8. Memperbanyak Takbir
Allah berfirman yang artinya: ”Hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu” [Q.S. Hajj: 37].
Adapun contoh lafadz takbir adalah apa yang dicontohkan oleh Ibnu Mas’udRodhiyallohu ‘Anhu: Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Sanadnya Shohih].

9. Menyembelih hewan Qurban
Sunnah ini khusus pada Idul adha dan tidak ada di waktu yang lain. Yaitu disunnahkan untuk menyembelih hewan qurban pada Idul Adha (tanggal 10 dzulhijjah) setelah shalat Id, hingga hari tasyrik (tanggal 11-13 Dzulhijjah).

Sumber:
abuzaid-alkebumeny.blogspot.co.id/2012/05/idul-adha.html?m=1
bersamadakwah.net/10-sunnah-idul-adha/

--------------------------

  ”Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Q.S Al-Hajj : 37)

Kami segenap keluarga besar SKI FIB Unair 2017 mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H. Mohon maaf Lahir & Batin.

======================
Departemen Syiar Media
SKI FIB UNAIR
Kabinet Kolaborasi Dakwah


Syahdan, tersebutlah seorang kakek tua tinggal di sebuah perkebunan di suatu desa yang cukup terpencil bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi sang kakek bangun pagi dan duduk di dekat perapian sambil menghangatkan diri membaca Al-Qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan mencoba meniru apa yang dilakukan kakek setiap hari seperti yang disaksikannya.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya:
“Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa guna membaca Al-Quran jika tak memahami artinya?"

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, menjawab pertanyaan cucunya:
“Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, lalu bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti apa yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Sang kakek tertawa dan berkata:
“Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali."

Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjang tersebut untuk mencoba lagi. Kali ini sang cucu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.

Kakek berkata:
”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras.”

Lalu sang kakek pergi keluar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak tersebut tau bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah.

Anak itu kembali mengambil dan mencelupkan keranjangnya ke sungai, kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata:
”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

Sang kakek menjawab:
”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu.”

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan ia baru menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

”Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al-Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami artinya sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam."

Sumber: https://pejuangikhlas.wordpress.com/2010/08/09/mengapa-dianjurkan-membaca-alquran-meski-tidak-tahu-artinya/amp/
-------------------------------------------

Intisari cerita:
Apapun yang kita lakukan pada dasarnya bukanlah hal yang sia-sia. Ada sesuatu yang dapat kita petik dari apa yang tanam. Begitu pun dengan membaca firman-Nya.

Tidak mengapa jika hari ini kita belum memahami apapun saat membaca Al-Qur'an. Tapi jangan pernah berpikir bahwa semua itu tidaklah sia-sia karena bisa jadi dengan membaca Al-Qur'an, Allah membersihkan hati dan pikiran kita, serta bisa jadi pula Al-Qur'an yang dapat memberi kita syafa'at di hari akhir.

Wallahua'lam bissawab ...

======================
Departemen Syiar Media
SKI FIB UNAIR
Kabinet Kolaborasi Dakwah

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan seorang mahasiswa baru melantunkan adzan di Masjid Manarul Ilmi. Bukan hanya suaranya yang berkumandang indah dan fasih, namun kisah di balik mengapa ia meminta diizinkan adzan mendatangkan keharuan.
.
Berikut ini tulisan Rektor ITS Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES. Ph.D sebagaimana beredar di grup-grup WhatsApp dan dikonfirmasi oleh alumni ITS:
.
"Menjelang magrib, Selasa 8 Agustus 2018, tiba-tiba saya ingin lebih awal tiba di mesjid Manarul Ilmi kampus ITS yang adem oleh rimbun pepohonan.
.
Ketika masuk di ruang utama yang berlantai granit itu, suasana masih sepi. Saya lalu memilih tempat di shaf pertama, yang baru terisi dua orang di sebelah kiri dan kanan saya. Sebelah kiri, seorang bapak pengunjung setia mesjid yang selalu saja diposisi yang sama saat berjamaah. Sedangkan di kanan saya, duduk bersila seorang mahasiswa baru ITS yang sekilas nampak dia juga sedang khusuk berzikir.
.
Setelah saya selesai melakukan shalat Tahiyatul Masjid, saya melirik ke jam dinding... Tiba-tiba muazzin mesjid mengampiri mahasiswa baru ini lalu berkata:"Beneran saudara mau nazar?" Sepintas si maba langsung mengangguk lalu maju ke depan mike.... Saya menoleh ke arah muazzin yang baru saja merelakan tugasnya diambil alih maba. Seakan mengerti bahasa tubuh, ia lalu menjawab tanpa ditanya, "Iya Pak, dia bernazar akan azan di Masjid ITS jika dia diterima jadi mahasiswa ITS!" Lalu berkumandanganlah suara adzan magrib dari mulut sang maba yang kemudian saya tahu bernama Wildan angkatan 2017 dari Departemen Desain Produk dan hafal 20 juz itu.
.
Suara adzan yang dilantunkan dengan suara kokoh, jernih dan tinggi nadanya sungguh terasa indah. Tak terasa saya mulai brebes mili. Andai saja semua mahasiswa baru muslim dengan semangat keislaman seperti dirinya, alangkah damai dan sejahteranya bangsa Indonesia ke depan. Sebab lahir generasi yang tidak saja cerdas, tetapi juga pintar memilah mana yang baik dan benar, serta mana yang sebaliknya. Semoga ini jadi pertanda baik baik kejayaan ITS dan Indonesia ke depan."

Semoga bisa menginspirasi semangat kita untuk tetap semangat belajar dan mensyiarkan kebaikan.

[beritaislam24h.info / tby] #BerbagiSemangat

======================
Departemen Syiar Media
SKI FIB UNAIR
Kabinet Kolaborasi Dakwah
Previous PostPostingan Lama Beranda